Celoteh Pasar
Anekdot dari Narasumber
Oleh : Hasan Zein Mahmud
Komisaris Independen
PT Wanteg Asset Management
Sahabat investor,
Menyusutnya persediaan timah di LME ke titik terrendah selama 30 tahun, merambatnya harga produk energi dan logam, boleh jadi merupkan indikator dimulainya commodity supercycle. Trend bullish jangka panjang.
Kita simak beberapa. Harga timah sudah berada di atas 23.000 USD per mt. Bandingkan dengan harga 13.000 an awal April tahun lalu. Harga nikel berada di atas USD 18.000. Bandingkan dengan harga sedikit di atas USD 11.000 pada April tahun lalu.
Trend serupa, walau dengan kemiringan yang berbeda, bisa dilihat pada emas, perak, tembaga, alumunium, platinum dan palladium
Sektor energi menunjukkan gerak serupa. Minyak bumi, gas, batubara dan CPO. Sekedar ilustrasi, WTI kini mendekati USD 60 per barrel. Dari minus USD 37 pada 20 April tahun lalu.
Trend is our friend…
In stock, we make profit out of the trend…
Missing the trend could be worse than missing the train..
Sahabat investor,
Januari biru? Atau Januari kelabu?
Bursa saham menutup bulan Januari 2021 dengan raungan beruang merah. Tiga indeks utama Amerika ditutup turun rata rata 2%. Eropa sama menggiriskan, CAC turun lebih 2%, FTSE dan DAX sedikit lebih baik di sekitar angka yang sama. Asia nyaris setali tiga uang.
BEI terjun lebih dalam. Dari 21 hari perdagangan selama Januari, 12 hari mengukir warna merah. Bahkan tujuh hari terakhir, indeks turun beruntun. Dengan barisan saham yang menabrak demarkasi ARB, daftarnya makin panjang. Kenaikan tajam di awal bulan, habis terkikis. Net inflows dana asing sebesar Rp 11 T selama Januari, tak banyak menolong.
Saya mengidentifikasi enam faktor fundamental di balik gejala bearish Januari itu:
[1] Belum muncul tanda tanda yang meyakinkan tentang keberhasilan kita mengalahkan pandemi
[2] Ekonomi Indonesia 1Q21 masih berpeluang kontraksi. Konsumsi rumah tangga masih menurun. Demikian juga belanja ritel kuartal terakhir 2020. Dalam World Economic Outlook Update January 2021, IMF merevisi ke bawah perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021, dari 6,1% menjadi 4,8%. Downgrading yang luar biasa
[3] Bursa saham, di Indonesia, kini menjadi ajang populer bagi kegiatan pencucian uang, korupsi dan deretan pelanggaran hukum lainnya. Yang menyedihkan, korban massif pelanggran hukum itu adalah investror ritel yang tak bersalah
[4] Kinerja bank bank besar, sebagai penggerak utama IHSG, diperkirakan akan mengalami penurunan kinerja pada 2020 vis a vis 2019. Perbankan adalah pantulan sektor riil. Betapapun besarnya dana PEN yang dikucurkan dan dikanalisasi lewat perbankan, tidak serta merta akan memperbaiki kualitas aset, menjaga biaya kredit dan mengerem laju NPL
[5] Berbaliknya tren USD. Yang tadinya diperkirakan terus menurun, tiba tiba berbalik menguat. Komoditas yang mayoritas dihargai dalam USD, ceteris paribus, akan mengalami penurunan harga
[6] Naiknya jumlah investor secara luar biasa, terutama dari kalangan milenial, bisa positif bisa negatif. Saya khawatir mereka lebih banyak melihat papan skor ketimbang belajar serius mengelola permainan
Semoga di Februari IHSG tak mengibarkan warna imlek..
Sahabat investor
Saya ingin berceloteh tentang orientasi ekonomi dan mineral unggulan
Blessing in disguise. Pandemi telah menggiring ekonomi global ke arah dua orientasi besar. Green economy dan digital economy.
Isu green economy antara lain berkaitan dengan pemanasan global, emisi buang, spesi yang musnah, degradasi kualitas tanah, hingga gurunisasi global. Bukan isu baru. Tapi pandemi telah meningkatkan perhatian manusia ke arah itu menjadi makin intens..
Pada sisi lain, pandemi juga memacu percepatan perkembangan teknologi dan digitalisasi. Moblilias manusia menurun, mobilitas barang meningkat. Kita semakin nyaman dengan belanja online, makin terbiasa bekerja dari rumah, pesatnya perkembangan infrastruktur digital, dll
Transformasi itu akan terasa langsung pada beberapa sektor. Pembangkit, misalnya, akan didesak untuk bergeser dari penggunaan energi fosil ke energi baru terbarukan. Perusahaan yang memasok listrik dengan pembangkit tenaga air, matahari, angin, panas bumi dan biomassa akan memiliki peluang usaha lebih besar
Sektor manufaktur akan mengalami tekanan serupa. Sumber energi yang ramah lingkungan, bahan mentah yang tidak mengganggu kelestarian alam dan bahan pembantu yang bisa didaur-ulang dst.
Di sektor transportasi, kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil pelan tapi pasti akan digantikan oleh kendaraan berbahan bakar listrik.
Dalam konteks transformasi itu, saya melihat dua jenis sumber daya alam yang akan menjadi mineral unggulan. Yang akan menjadi mineral yang paling banyak diburu di tahun tahun yang akan datang.
Mineral itu adalah nikel dan timah.
Kita bsesyukur, Indonesia memiliki dua mineral tersebut dalam jumlah yang cukup berlimpah. Dua mineral yang akan banyak menentukan geliat ekonomi Indonesia beberapa tahun ke depan.
Nikel, konon, merupakan bahan baku utama baterai lithium yang ekonomis. Setahun belakangan, nikel telah mendominasi aktivitas ekonomi Indonesia. Mulai dari investasi, kesempatan kerja, pemicu industrialisasi, potensi devisa dan pertumbuhan ekonomi. Saat ekonomi nasional mengalami kontraksi, Provinsi Maluku Utara dan Sulawesi Tengah tetap mampu bertumbuh positif, Berkat nikel. Peran nikel akan semakin membesar di tahun tahun yang akan datang
Timah juga memiliki peluang. Meningkatnya produski alat alat elektronik dan mesin mesin – paralel dengan pertumbuhan teknologi – akan memacu permintaan akan timah. Perubahan kebiasaan dari pembelian makanan dan minuman dalam bentuk curah, yang dimakan di tempat, menjadi makanan dalam kemasan yang dibeli secara online, diperkirakan meningkatkan permintaan timah untuk kebutuhan kemasan.
Timah juga memiliki cerita lain. Salah satu mineral ikutan dalam proses produksi timah adalah monasit, yang bisa diolah lebih lanjut menjadi thorium dan elemen tanah jarang. Elemen yang disebut terakhir itu, tersedia cukup banyak di sini. Hanya belum tersentuh, karena keterbatasan teknologi dan know how. Elemen tanah jarang, terbukti dan diakui memiliki peran strategis dan ekonomis yang cukup penting.
Sahabat investor,
Harga saham dipengaruhi, bahkan ditentukan oleh ekspekstasi. Itu aksioma. Penjumlahan ekspekstasi tercermin dalam permintaan dan penawaran agregat. Terbentuklah harga
Tapi ekspekstasi manusia berubah sama cepatnya dengan harga itu sendiri. Yang lebih sulit, membedakan ekspekstasi wajar dengan emosi seperti ketakutan, kepanikan dan keserakahan. Membedakan ekspekstasi yang rasional dengan emosi, ilusi dan utopi.
Berikut mungkin bisa jadi ilustrasi. Nggak usahlah menyebut nama perusahaan. (Tanpa disebut, yang aktif di bursa akan tahu sendiri, haha).
Karena akan ikut berperan dalam kegiatan vaksinasi covid-19, harga sahamnya naik 533% selama 6 bulan terakhir. Padahal catatan kinerja sejauh ini, maaf, marjinal.
Akibatnya, perusahaan yang memiliki ekuitas kurang dari Rp 175 miliar (per 30 September 2020), itu, mengalami lonjakan kapitalisasi hingga mencapai Rp 5,5 triliun lebih. Mengerek PBV ke angka hampir 32 x dan PER (annualized) mendekati 459 x
Berapa besar laba yang bisa diperoleh dari limpahan tugas pemerintah itu. belum mampu dihitung. Apakah penugasan itu monopoli atau ada perusahaan lain sejenis, juga belum jelas. Lebih dari itu, penugasan semacam ini, tak sustainable. Tak seorang pun berdoa agar peristiwa vaksinasi massif semacam in akan terulang kembali
“Greed is good” kata Geko dalam film Wall Street. “Investment is made of fear and greedy” tulis Ben Graham, bapak Investment Analysis. “Be fearful when others are greedy and be greedy when others are fearful.” petuah investor legendaris WB
Kataku: “Investor yang bahagia adalah yang mampu mengendalikan si liar TATA. Tamak dan Takut”.
Sahabat investor,
Energi dan logam heboh lagi. Emas spot naik 0,28% (saat celoteh diketik), WTI naik 0,34% bertengger di atas USD 53 pb. Brent juga naik. Batu bara membara. naik di atas 6%. Suhu di Jepang luar biasa dingin. Tujuh dari 9 pembangkit nuklir sedang overhaul.
Logam. Nikel yang dua hari berturut-turut koreksi, kemarin ditutup naik 2,73%. Grafit – alat penyimpan listerik – mengalami kenaikan permintaan lebih dari 150% tahun lalu. akan menjadi bahan galian yang paling diburu tahun tahun mendatang.
Timah naik 1,21% menyongsong angka USD 21.000 / mt. Cuma tembaga yang ditutup flat, Pelemahan UDS berlanjut, DXY turun 0,47% kemarin.
Yang fantastis adalah kenaikan yield obligasi. Yield 10 Y Treasury yang setahun lebih berada di bawah 1%, kemarin ditutup pada 1,134%. Migrasi besar-besaran dari fixed income ke risky asset
Mari putar lagu Andi Meriem Matalatta (almh). Januari yang biru!
Sahabat investor,
Penggerak utama IHSG adalah sektor perbankan dan konsumsi (izin memasukkan rokok dan ayam ayam ke dalam konsumsi). Bisa dimaklumi kalau daftar orang terkaya di Indonesia, berlatar perbankan dan rokok.
Penggerak utama pasar modal Amerika Serikat, adalah sektor teknologi. Dulu ada lima besar. AAAFM. Apple, Amazon, Alphabet, Facebook dan Microsoft. Kini ditambah dua lagi, yang akhir akhir ini menyeruak ke depan. TESLA dan NVIDIA.
Bisa dimengerti kalau daftar orang terkaya Amerika (dan dunia) berlatar pemilik saham perusahaan teknologi. Jeff Bezos, Elon Musk, Bill Gates, Mark Zuckerberg…
TESLA adalah “keajabiban” baru. Selama 2020, kapitalisasinya naik sembilan kali lipat. Dari USD 76 miliar pada awal tahun menjadi USD 669.6 miliar pada alkhir tahun.
Bisa dimengerti kenapa Elon Musk tiba tiba menyalip Jeff Bezos sebagai manusia terkaya di planet bumi. Saat ini!
Ada yang bertanya pada saya: “Apakah kalau TESLA tak jadi investasi di Indonesia, harga saham INCO dan ANTM akan kembali rontok?”
Jawaban saya, tipikal jawaban mata bintitan (hehe ada teman yang memberi gelar saya mata dewa, hanya karena memperkirakan kenaikan harga saham ANTM sejak 3 tahun lalu): “Kalau tak jadi investasi, kehilangan opportunity income TESLA jauh lebih besar dari peluang yang sama bagi Indonesia..
Percayakah apa percaya?
Sahabat investor,
Kekeringan di Chicago AS, sebagian Argentina dan Brazil membawa berita buruk dan berita baik.
Berita buruk. Harga kedelai naik, harga tempe dan tahu ikut naik, padahal makanan dan lauk favorit.
Berita bagus. Merupakan salah satu faktor naiknya harga CPO. Bersama dengan gangguan pasok dan turunnya persediaan di Malaysia, plus minyak mentah (WTI) yang sudah berada di atas $ 50 per barrel, harga CPO mencapai rekor tertingginya selama 10 tahun.
Di bursa saham, banyak pilihan yang bisa dipertimbangkan. AALI, LSIP, SIMP, DSNG BWPT, TBLA dll
Sahabat investor,
Energi dan logam. Dua sektor paling siklikal. Dua leading indicators aktivitas ekonomi. Sederhana. Tidak ada kegiatan ekonomi yang tak butuh energi. Tidak ada pembangunan pisik – apalagi manufaktur – yang tak butuh logam.
Kita simak posisi market close kamarin. Energi: WTI naik 4,93%. Brent 4,99%, Gas alam 4,69%. Lalu logam. Timah naik 0,92%. Nikel + 2,09%. Alumunium + 0,86%. Platinum + 3,67%. Baja +2,70%. Emas + 0,28%. Dan perak +1,21%
Indikator lain. Yield obligasi naik. Artinya harganya turun. Indeks harga saham naik. DXY, indeks USD, seperti perkiraan, kembali turun 0,41% ke 89,51. Cash disbursement. Risk appetite. Sikap bullish terhadap ekonomi.
Lalu konfirmasi gerak ekonomi. Saya tulis kemarin indeks manufaktur China dan Zona Euro naik. Indeks manufaktur Amerika Serikat, Desember, naik dengan kecepatan tinggi.
Lengkap sudah tanda tanda optimisme. Asal jangan bubble. Jangan overheating.
Sahabat investor,
Dua alasan utama yang mengerek harga logam:
- Pelemahan USD. Saat posting ini diketik, DXY berada di 89,75. Nampaknya pelemahan USD akan berlanjut karena stimulus raksasa $2,3 Triliun dan keenganan investor memegang cash didorong oleh ekspekstasi imbal hasil yang lebih tinggi di ekuitas.
- Indeks Industri di China dan Eropa melaju. Permintaan logam meningkat.
Khusus, nikel, ditambah kekhawatiran menurunnya pasok sebagai akibat gempa di Sulawesi. walaupun berita paling akhir menyatakan bahwa produksi di Morowali berjalan normal
Pada pukul 14.15, Di LME, nikel tercatat $ 17.577 per mt, sudah naik lebih dari 5% dalam 24 jam terakhir. Timah meloncat ke atas $21,000 Tercatat 21,225, melanjutkan kenaikan 2,1% kemarin. Tembaga juga melanjutkan kenaikan. Naik 0,94% hingga siang ini dan bertengger di 7,931. Emas pun tak mau kalah. Berjaya di $ 1,943 per troy ounce
Paling asyik bertransaksi di saham logam.
Virus Corona merontokkan semua sendi sendi ekonomi. Dari China, episentrum beralih ke Eropa. Lima puluh Negara bagian di AS, tak ada lagi yang terbebas, dan banyak kota berada dalam kondisi yang mengharuskan lock down. Di Indonesia, dalam kurun waktu dua minggu sejak deteksi infeksi pertama, jumlah kasus meningkat lebih dari 100 x lipat.
Di sektor keuangan, kapitalisasi global sudah terkuras hampir $80 triliun. Pada saat celoteh ini diketik, IHSG sudah turun 34% ytd. Rupiah yang di awal Maret masih berada di kisaran 13.700, kini mendekati angka 16.000, mengulangi krisis tahun 1998. Di pasar reguler BEI, asing sudah net sell lebih dari Rp 11 triliun rupiah. Hari-hari perdagangan adalah hari-hari suspensi, karena penurunan indeks yang menyentuh batas bawah. Saat celoteh ini diketik, transaksi BEI sedang dihentikan sementara. Hanya berlangsung sekitar 30 menit sejak pembukaan. Celoteh ini dimaksudkan sebagai himbauan untuk menggeser fokus dari ketakutan terhadap kontraksi sekonomi ke arah upaya totalitas melawan virus.
Logika sederhana. Roda ekonomi kini diganjal Covid-19. Stimulus moneter dan fiskal itu seperti tambahan bahan bakar dan tekanan pada pedal. Tapi kalau ganjalannya tak dipelas, apalagi kalau membengkak makin besar, maka tambahan bahan bakar dan tekanan gas, tidak menggerakkan apa-apa. Roda tetap enggan menggelinding. Dihadapkan pada ketakutan dan kepanikan massif, kalkulasi ekonomi akan berhenti.
Tunda dulu insentif. Kerahkan seluruh kekuatan bangsa, untuk menyingkirkan ganjalan. Arahkan dulu semua sumber daya, dana, tenaga dan perhatian untuk melawan virus. Ini saat yang tepat untuk mengokohkan kembali kohesi sosial. Memupuk kembali solidaritas yang lama mati karena energi habis di pacuan perlombaan materi. Menumbuhkan kembali empati, yang selama ini renggas karena keserakahan terhadap simbol simbol pisik. Mari kita pukul genderang perang melawan virus. Setelah itu, genderang perang terhadap virus korupsi. Setelah itu baru genderang untuk secara bersama mendorong gerbong ekonomi.
Di bursa saham, krisis 1998 menyeret IHSG 53% ke bawah dari puncak sebelumnya, sebelum rebound. Krisis mortgages di AS tahun 2008, merontokkan IHSG 54%, dari puncak sebelumnya, sebelum pulih kembali setahun kemudian.
Sistuasi kini lebih mengerikan. Di tahun 1998 dan 2008 roda produksi masih berputar, walau lamban. Dalam keadaan seperti itu, kebijakan kontra siklikal dapat diharapkan memacu gerak ekonomi. Saat ini banyak sektor produksi yang terpaksa dihentikan sama sekali atas pertimbangan kesehatan dan keselamatan.
Situasi kini lebih mengerikan. Krisis 1998 dan 2008 kita hanya berhadapan dengan variabel ekonomi dan variabel lain, yang terkait dengan persoalan ekonomi. Kini kita berhadapan dengan “hantu” yang tak kelihatan, yang terus berbiak dengan kecepatan eksponensial.
Hari ini, Rabu 04 Maret 2020, IHSG dengan gagah berani mengambil jalan berbeda dengan DJIA. Naik lebih dari 2%, padahal Selasa kemarin, DJIA ditutup turun lebih dari 2%
Dalam kacamata saya, ini gejala yang benar. Saham bukanlah instrument yang harganya seluruhnya ditentukan suasana psikologi sesaat. Seperti tanaman “gelombang cinta” yang pernah dihargai Rp 50 juta per pot, saat masyarakat diserang virus cinta gelombang cinta. Kini dikasih gratis saja, nyaris nggak ada yang mau. Saham adalah representasi peluang bisnis. Representasi ekspekstasi kinerja earnings perusahaan yang akan datang
Ada banyak berita bagus menunggu di depan. Kasus infeksi COVID-19 di China menurun tajam, bersamaan dengan ditemukannya obat penangkal virus genit itu. Di dalam negeri, tak ada berita infeksi baru. Tak ada kepanikan seperti terjadi di berbagai Negara di luar sana. Bagi saya, apapun penjelasannya, saya percaya bahwa orang Indonesia memiliki kekebalan lebih terhadap virus.
Dari ranah politik, terpilihnya Joe Bidden sebagai calon partai Demokrat, juga merupakan berita bagus. Peluang terpilihnya kembali Trump merupakan berita buruk bagi ekopnomi dunia. Protectionism and xenophobia are continuing to grow.
Dari dataran ekonomi, Negara Negara kini akan berlomba melakukan kebijakan kontra siklikal. Kebijakan moneter ekspansif seperti penurunan tingkat bunga, kucuran stimulus dan relaksasi penyaluran kredit. The Fed, BoJ, ECB secara terbuka menyatakan komitmen untuk menyediakan cukup likuiditas guna meredam perlambatan ekonomi. The Fed bahkan sudah mulai dengan menurunkan Federal Fund Rate 50 basis point. Bank Indonesia sudah mendahului sebelum itu. Memangkas 7DRR, 25 basis point ke 4,75%
Paralel dengan moneter, kebijakan fiskal pun akan ekspansif. Defisit anggaran yang lebih besar dan government spending yang lebih besar pula. Indonesia memiliki ruang moneter dan fiskal yang relative lebih luas ketimbang Negara Negara lain. Tingkat bunga acuan kita masih relatif tinggi. Sepanjang rupiah stabil dan inflasi bisa dipertahankan rendah, peluang penurunan tingkat bunga lebih lanjut terbuka. Kumulatif hutang Negara juga masih jauh dari ambang batas 60% PDB
Saya menangkap sinyal, pemerintahan Jokowi akan menggenjot dorongan fiskal ini habis habisan untuk menarik investasi dan memacu pertumbuhan ekonomi. Anggaran infrastruktur Rp 423 triliun bisa dialirkan lebih kencang. Jaminan sosial dan bantuan sosial diperbesar untuk menjaga daya beli dan pertumbuhan konsumsi. Kartu sehat, bantuan keluarga prasejahtera, kartu prakerja, diperbesar. Masih ada lagi proyek padat karya. Masih ada lagi insentif untuk sektor pariwisata. Maklum, penghasil devisa urutan ke 3 ini, merupakan sektor yang paling terdampak oleh virus Corona.
Pamungkasnya adalah Omnibus Laws. Salah satu yang memberikan durian runtuh bagi pasar modal adalah insntif pajak. PPh badan akan turun berangsur dari 25% ke 20%. Perusahaan tercatat akan mendapat potongan lagi 3%. Pajak Dividen tidak akan dipungut. Obligasi yang diterbitkan untuk pembiayaan infrastruktur, bunganya hanya akan dikenakan pajak 5%, dari tariff umum 15%
Ekonomi Indonesia, seperti orang Indonesia, lebih kebal terhadap virus resesi.
Masih belum mau belanja saham?
Nampaknya tekanan terhadap pasar saham masih akan berlanjut, minggu depan. Pasar saham Amerika Serikat, walau tak setajam penurunan 4 hari terkahir, tapi tetap menutup minggu terkahir Februari dengan penurunan DJIA sebesar 1,39%.
Eropa menyelam lebih dalam. Rata rata di atas 3%. Dari indeks utama Eropa penurunan paling tajam terjadi di Jerman, 3,86%! Negara ini nampaknya akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang flat, ke depan. Mobil mobil papan atas, salah ikon ekonomi Jerman, bukan hanya tidak bisa terjual, tapi tidak bias berproduksi. Pabrik utamanya ada di China.
Harga komoditas pun menggigil di musim gugur. Minyak bumi (WTI) turun 3,91%. Timah koreksi 0,78%. Nikel anjlok 1,31%. Bahkan si kuning safe haven (emas kontrak April) ikut terseret ke bawah 3,37%
Bursa saham Asia mengikut. (sejatinya di depan). Nikkei, Shanghai, STI semua turun lebih dari 3%. IHSG “hanya” turun 1,5%. Tapi itu membawa penurunan ytd, 13,44%. Dan hitungan kasar saya, kapitalisasi pasar sudah tergerus sekitar Rp 740 triliun sejak awal tahun.
Dari luar, dunia dikepung hantu CONVID-19. Dari dalam kita digerogoti virus ketidak-percayaan. Yang disebut belakangan itu, tak pernah ditemukan vaksinnya di sini. Korsel mencatat korban meninggal terbesar, di luar China. Italia dinobatkan sebagai hub inernasional penyebaran. Negara surga turisme itu mungkin akan berubah menjadi rumah hantu di film-film horror. Amerika Serikat, mulai merencanakan menutup sekolah sekolah. Iran yang sejatinya lumayan jauh dari China, terjangkit cukup massif. Wakil Presiden dan Menteri Kesehatan Iran, kini berstatus pasien.
Bagaimana Indonesia? Sejauh ini info resmi tetap menyatakan kita masih bebas infeksi. Saya khawatir, info yang tak jelas dan rinci bisa memacu heboh rumor dan hoaks. Rumor dan hoaks hanya akan menepi bila kita semua bersikap jujur, transparan dan terbuka. Menyisihkan sesaat dominasi kepentingan politik, demi keamanan masyarakat.
Kembali ke bursa saham. Kemarin salah satu kanal TV bertanya kepada saya: “Apa Otoritas dan Bursa perlu memberhentikan perdagangan?” Saya tegas menyatakan ketidak-setujuan saya. Saya memang tak sepaham pada kebijakan artifisial, yang tak menyentuh akar persoalan. Harga saham memang digerakkan oleh ekspekstasi. Tapi ekspekstasi positif harus dibangun di atas pondasi perbaikan kinerja riil, agar tidak menjadi utopis, atau wishful thinking. Bahkan boomerang.
Seharian kemarin, saya mengucapkan kalimat ini berkali kali di beberapa forum berbeda: “Without trust, capital market will turn out into casino”
Gagasan lain saya baca di media. Mendorong emiten untuk melakukan buy back. Bahkan, karena darurat, bisa dilakukan tanpa persetujuan RUPS. Buy back adalah pedang bermata dua. Menggunakan idle cash untuk buy back boleh jadi bisa memoles tampilan jangka pendek. Namun jangan sampai dana untuk tujuan operasi dipindah-alokasikan untuk membeli kembali sebagian (kecil) saham beredar berdampak menurunkan kinerja perusahaan. Penurunan kinerja untuk tujuan window dressing, berakibat seperti adding fuel to the fire.
Mari kita susun rencana jelas, rinci dan terbuka menyangkut antisipasi terhadap penyebaran CONVID-19. Masyarakat akan merasa dipedulikan dan dilindungi. Negara luar percaya bahwa kita tidak pernah abai, apalagi bersembunyi.
Revolusi mental, ajak Jokowi! Mari kita kembalikan masyarakat Indonesia menjadi manusia-manusia yang jujur, amanah dan terpercaya. Bila perlu dengan amputasi terhadap kanker korupsi dan perampasan milik masyarakat dalam bentuk apapun!
Meneropong ke depan sepanjang horison hingga akhir tahun, pertanyaan yang menggoda adalah: Seperti apakah kinerja pasar modal 2020? Saya ingin mengatakan bahwa faktor paling menentukan adalah tampilan earnings emiten selama tahun buku berjalan.
Agak sulit mengharapkan tidak terjadinya penurunan bottom line unit usaha. Sama sulitnya mengharapkan tidak turunnya pertumbuhan ekonomi. Penyebaran virus corona telah membuat perputaran rantai pasok tersendat. Ekonomi China diperkirakan akan standstill. Perannya terhadap GDP global saat ini diperkirakan sekitar 18%. Harga-harga komoditas menurun tajam, akibat turunnya permintaan. Baltic Dry Index, yang sering dijadikan barometer perdagangan internasional, menunjukkan trend turun.
Di dalam negeri, kesulitan serupa menghadang di depan. Mobilitas orang dan barang mengalami penurunan tajam. Penerbangan dari dan ke China terhenti. 25% turis ke Bali, berasal dari China. Jumlah itu sekitar 13% dari total wisman yang datang ke Indonesia. Ribuan pesanan hotel batal. Transportasi, hotel dan restoran mengalami penurunan omset yang dalam. Ekspor yang terhenti membuat harga jatuh dan biaya persediaan meningkat. Bahan baku yang tidak datang, membuat produksi tersendat.
Boleh jadi pengecualian hanya diharapkan dari batubara. China mengkonsumsi 52% batubara dunia. Ketergantungan pembangkit listrik China terhadap batubara masih sangat tinggi. Dan pembangkit adalah sektor yang tidak boleh berhenti.
Di Amerika Serikat, pembelian kembali saham oleh perusahaan merupakan salah satu pendukung – boleh jadi pendukung utama – di balik rally harga saham setahun terakhir. ”Corporations have been the biggest buyers of their stocks” mengutip Zerohedge beberapa waktu lalu. Nampaknya penurunan tarif pajak dan tingkat bunga meningkatkan amunisi dan menambah gairah perusahaan melakukan buy back
Tapi sekali laporan earning menunjukkan penurunan, maka aktivitas buy back akan terhenti. Tidak logis membeli kembali saham saham perusahaan yang mengalami penurunan laba.
Besarnya stimulus dari bank sentral – yang selama ini mengalir ke ekuitas – juga akan menjadi bumerang. Membeli saham perusahaan yang mengalami penurunan profitabilitas, akan mengerek harga saham menjadi overvalued dan menjadi bubble. Bisa gembos atau meletus dengan mudah. Lalu sektor apa yang masih memberikan harapan? Kita celotehi pada kesempatan catatan berikutnya.